Karya Residensi Seni Pedagogi adalah hasil proses belajar siswa-siswi 5 sekolah yang difasilitasi secara kolaboratif bersama guru & seniman peserta residensi. Karya-karya tersebut dipajang dalam galeri kuratorial “Pendidikan yang Berkebudayaan”, yang bertempat di Musem Kebangkitan Nasional (STOVIA), selama Pekan Kebudayaan Nasional 2023 berlangsung (20-29 Oktober 2023).
“Berilmu di Lumbung Kebudayaan Nangroe Aceh” – SMP N 8 Bandarbaru
Karya instalasi dan video dokumentasi siswa-siswi SMP N 8 Bandarbaru adalah buah pembelajaran mereka melalui dialog bersama budayawan Syekh. Mereka mempelajari peralatan, proses, dan filosofi penggarapan sawah secara tradisional di Pidie Jaya.
“Penyadapan Seni Tradisi” – SMA N Rancakalong
Proses observasi siswa-siswi SMA N Rancakalong menghantarkan mereka berjumpa dengan seniman Tutunggulan, Tarawangsa, dan Rengkong, yang merupakan tiga bentuk kesenian tradisional yang berbeda.
“Aku dan Sungai” – SMA N 1 Tanjungsiang
Ketika siswa-siswi SMA N 1 Tanjungsiang menyusuri sungai Cikembang, mereka menyadari bahwa tempat-tempat yang biasanya menjadi persembunyian ikan malah menjadi tempat tersangkutnya sampah. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pemantik mereka untuk membuat sebuah karya instalasi. Ditambah dengan lukisan-lukisan pensil, mereka memotret situasi sungai di Tanjungsiang dan menghadirkannya di Jakarta.
“Tresnane Ngajak Punyan Mente (Cintanya kepada Pohon Mente)” – SMP N 4 Abang
“Tresnane Ngajak Punyan Mente” atau “Cintanya kepada Pohon Mente” adalah artikulasi ketertarikan, apresiasi, dan hasil pembelajaran siswa-siswi SMP N 4 Abang tentang karakteristik dan potensi pohon jambu mente di daerah Abang, Kecamatan Karangasem, Bali. Bentuk artikulasi mereka adalah sebuah judul lagu, tarian, komik, dan hasil eksperimen pembuatan fermentasi buah mente berupa minuman dan produk pupuk cair. Lihat Selengkapnya >>>
“Bisa Karena Biasa” – SMP N 2 Jayapura
Siswa-siswi SMP N 2 Jayapura melakukan riset tentang sampah melakukan uji coba gerakan “Ekosistem Sadar Sampah” bersama warga sekolah. Hasil refleksi mereka berdasarkan riset dan uji coba tersebut kemudian diartikulasikan ke dalam karya “Bisa Karena Biasa”, yang merupakan catatan belajar sekaligus ajakan untuk sadar akan situasi sampah di lingkungan.
